Karena senang membaca buku dan artikel, saya mulai mencoba mencari berbagai referensi mengenai pekerjaan sampingan atau ide usaha yang bisa dijalani untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Menurut saya, untuk bisa keluar dari jerat kekurangan, kita perlu menjalankan dua hal secara bersamaan, yaitu:
- Mengurangi pengeluaran hingga hanya yang bersifat esensial atau fundamental
- Meningkatkan pendapatan
Mengurangi pengeluaran hingga hanya yang bersifat esensial bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya tidak membeli bakso, camilan, dan pengeluaran kecil lain yang sebenarnya tidak terlalu penting. Bisa juga dengan berhenti berlangganan layanan tertentu yang tidak benar-benar dibutuhkan, mematikan lampu jika tidak dipakai, mengurangi penggunaan sepeda motor dan lebih sering naik sepeda, serta melakukan berbagai penghematan lain, meskipun nilainya hanya beberapa belas atau puluh ribu rupiah per bulan.
Meningkatkan pendapatan memang mungkin terasa lebih sulit. Kebanyakan dari kita tidak memiliki bakat menjual. Ketika diminta berwirausaha, kita juga sering bingung harus memulai usaha apa. Di sisi lain, ada pula kekhawatiran bahwa pekerjaan sampingan justru akan mengganggu pekerjaan utama.
Kalau merasa khawatir pekerjaan sampingan bisa mengganggu pekerjaan utama, cobalah mencari tahu apa yang masih bisa dilakukan untuk menambah pendapatan tanpa mengganggu pekerjaan tersebut. Cari jalan keluarnya, karena kita sedang berada dalam kondisi kritis. Kalau kita hanya diam, jangan-jangan kita justru terbuai oleh bayang-bayang semu. Kita sedang berada dalam situasi kekurangan, tetapi merasa seolah-olah semuanya baik-baik saja. Itu yang berbahaya.
Dulu, ketika saya berada dalam kondisi yang sama, saya juga bingung harus mulai dari mana. Akhirnya saya membaca banyak artikel dengan tema usaha tanpa modal atau usaha dengan modal ringan. Saya mencoba berpikir, apa yang bisa saya lakukan berdasarkan kemampuan dan kelebihan yang saya miliki.
Lalu saya menyadari bahwa saya bisa mengajar. Saya pernah menjadi asisten laboratorium komputer di kampus. Dari situ saya melihat peluang untuk mengajar les privat bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Saya juga bisa menulis artikel atau buku. Semua itu nyaris tidak membutuhkan modal tambahan.
Saya bahkan sempat belajar Google Adsense. Saya juga belajar membuat review dalam bahasa Inggris. Memang hasilnya kecil, bisa dibilang usaha recehan. Namun justru dari situlah saya belajar. Kalau kita sudah merasakan susahnya mencari uang 1–2 dollar atau Rp10.000–Rp20.000, kita akan lebih menghargai uang. Kita akan menjadi lebih selektif dalam mengeluarkannya.
Setiap recehan tambahan yang didapat, saya kumpulkan. Saya akumulasikan. Dari yang semula hanya mampu menabung Rp6.000.000 per tahun, perlahan jumlah itu bisa meningkat. Aset yang ada pun mulai dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dari proses itulah kita belajar untuk terus memperbaiki kualitas kehidupan kita.