Keluar dari Jerat Masalah Keuangan: Refleksi Pengalaman Pribadi – Bagian 1

Artikel

Bagian Pertama

Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seorang rekan mengenai alasan saya memilih menjadi wirausaha dan apa latar belakang yang membuat saya akhirnya mengambil keputusan tersebut. Obrolan ini bermula dari pembicaraan tentang berbagai aktivitas yang saya lakukan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendapatan rumah tangga.

Saya menjelaskan bahwa pilihan untuk berwirausaha lahir dari dua hal. Pertama, karena saya memang senang membaca. Kedua, karena saya menyadari ada kenyataan yang cukup berbahaya terkait kondisi pendapatan saya saat masih bekerja sebagai karyawan.

Sebelum berwirausaha dan membangun perusahaan kecil, saya pernah bekerja sebagai karyawan pabrik di Cikarang. Saat itu saya bekerja sebagai operator produksi, level paling bawah di perusahaan manufaktur. Setelah satu tahun bekerja, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah melalui program “kuliah sambil kerja”.

Setelah lulus, saya beralih ke bidang IT dan sempat bekerja sebagai staf IT di beberapa perusahaan, antara lain di kawasan Delta Silicon Industrial Park dan Karyadeka Pancamurni, dekat EJIP (East Jakarta Industrial Park), di Cikarang, Bekasi. Pekerjaan terakhir saya sebagai karyawan adalah supervisor IT di sebuah perusahaan logistik di kawasan Cakung Cilincing, Jakarta Utara.

Meski saat itu saya sudah bekerja sebagai supervisor di bidang IT, gaji yang saya terima pada dasarnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak, Zeze Vavai. Penghasilan saya habis untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya transportasi. Karena itu, menabung Rp750.000 per bulan saja sudah terasa sangat berat.

Tabungan Rp750.000 tersebut terdiri dari Rp500.000 untuk tabungan mapan atau tabungan JHT bagi saya dan istri, sedangkan Rp250.000 dialokasikan untuk tabungan pendidikan Zeze Vavai.

Kalau dipikir-pikir, dengan menabung Rp500.000 per bulan, dalam satu tahun saya hanya bisa mengumpulkan Rp6.000.000. Jika dilakukan selama lima tahun, jumlahnya baru mencapai Rp30.000.000. Saat mulai menabung, saya bahkan belum memiliki rumah. Aset yang saya miliki saat itu hanya sebuah sepeda motor hasil kredit, yang cicilannya pun masih harus dibayar selama beberapa tahun.

Pada masa itu, uang muka rumah sederhana berada di kisaran Rp30.000.000 sampai Rp40.000.000. Namun ketika setelah lima tahun menabung saya berhasil mengumpulkan Rp30.000.000, biaya uang muka rumah justru sudah naik menjadi sekitar Rp50.000.000. Rasanya seperti terus tertinggal dan tidak pernah benar-benar bisa mengejar.

Di situlah saya mulai berpikir bahwa saya tidak bisa terus hidup dengan pola seperti itu. Saya harus memikirkan masa depan keluarga dan anak-anak saya. Bagaimana saya bisa membantu keluarga, apalagi membantu orang lain, jika setiap hari saya sendiri masih harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga?

Saya tidak bisa hanya diam, berkhayal, atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Saya harus mencari jalan keluar. Saya harus berusaha keluar dari jerat masalah keuangan yang saat itu membelenggu hidup saya.

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *