Kenaikan gaji sering dianggap sebagai jalan keluar dari keuangan yang terasa sempit. Kita membayangkan bahwa begitu penghasilan bertambah, menabung akan menjadi lebih mudah, cicilan terasa lebih ringan, dan sisa uang di akhir bulan akan lebih banyak.
Masalahnya, setelah kenaikan itu benar-benar datang, sisa uang di akhir bulan sering tidak banyak berubah.
Gaji sudah naik dua kali dalam tiga tahun, tetapi nominal tabungan masih sama seperti dulu. Tidak ada pengeluaran besar yang terasa salah. Tidak ada pembelian yang disesali. Uangnya hanya habis, seperti biasanya.
Kondisi ini punya nama: inflasi gaya hidup.
Apa Itu Inflasi Gaya Hidup?
Inflasi gaya hidup adalah keadaan ketika pengeluaran ikut naik setiap kali penghasilan bertambah.
Berbeda dari inflasi harga yang terjadi di luar kendali kita, inflasi gaya hidup berasal dari keputusan kita sendiri. Bukan harga beras yang berubah, melainkan standar yang kita pakai untuk menyebut sesuatu sebagai “wajar”.
Bentuknya jarang terlihat mencolok. Contohnya antara lain:
- Kopi sachet berganti menjadi kopi kafe beberapa kali seminggu
- Makan siang yang dulu bawa bekal kini lebih sering pesan antar
- Langganan aplikasi bertambah satu demi satu
- Ponsel diganti lebih cepat, dengan cicilan
- Liburan pindah ke tempat yang sedikit lebih jauh
- Belanja bulanan beralih ke merek yang sedikit lebih mahal
Tidak ada satu pun dari daftar di atas yang salah. Sebagian bahkan memang layak dinikmati setelah bekerja keras. Persoalannya muncul ketika semua itu terjadi bersamaan, tanpa pernah kita putuskan secara sadar.
Mengapa Sulit Disadari?
Inflasi gaya hidup tidak datang sebagai satu keputusan besar. Ia datang sebagai puluhan keputusan kecil yang masing-masing terasa masuk akal.
Tambahan Rp50.000 untuk makan siang tidak terasa berarti ketika gaji baru saja naik Rp2.000.000. Begitu juga langganan Rp65.000 per bulan, atau cicilan Rp400.000 untuk perangkat baru. Setiap keputusan lolos karena dibandingkan dengan kenaikan gaji, bukan dengan keputusan-keputusan kecil lain yang sudah lebih dulu diambil.
Selain itu, kita cepat terbiasa. Sesuatu yang tiga bulan lalu terasa seperti kemewahan, hari ini sudah menjadi kebutuhan. Begitu sebuah pengeluaran masuk kategori kebutuhan, kita hampir tidak pernah meninjaunya lagi.
Nominal Tabungan Sama, Padahal Sebenarnya Turun
Di sinilah bagian yang sering terlewat.
Bayangkan gaji kita Rp8.000.000 dan setiap bulan kita menabung Rp1.000.000. Dua tahun kemudian gaji naik menjadi Rp10.000.000, sementara tabungan tetap Rp1.000.000.
Sekilas tidak ada yang berubah. Namun, coba lihat persentasenya:
Rp1.000.000 ÷ Rp8.000.000 = 12,5%
Rp1.000.000 ÷ Rp10.000.000 = 10%
Porsi penghasilan yang kita simpan justru mengecil. Seluruh kenaikan Rp2.000.000 habis untuk pengeluaran, dan gaya hidup kita sekarang membutuhkan Rp9.000.000 per bulan, bukan lagi Rp7.000.000.
Artinya, kita bukan hanya tidak bertambah siap. Kita menjadi lebih bergantung pada gaji yang lebih besar, dengan bantalan yang relatif lebih tipis.
Putuskan Sebelum Uangnya Datang
Cara paling efektif menghadapi inflasi gaya hidup adalah menentukan nasib kenaikan gaji sebelum kenaikan itu masuk ke rekening.
Salah satu pendekatan yang sederhana adalah membagi dua. Separuh kenaikan untuk masa depan, separuh lagi untuk dinikmati.
Dengan contoh yang sama, kenaikan Rp2.000.000 dibagi menjadi:
- Rp1.000.000 tambahan untuk tabungan dan investasi
- Rp1.000.000 tambahan untuk kebutuhan dan gaya hidup
Tabungan bulanan menjadi Rp2.000.000, atau 20% dari gaji baru. Kita tetap merasakan hasil dari kenaikan tersebut, tetapi porsi yang disimpan ikut tumbuh.
Pembagiannya tidak harus selalu separuh. Yang penting, angkanya ditentukan lebih dulu dan dipindahkan pada hari gajian, bukan menunggu sisa di akhir bulan.
Tidak Semua Peningkatan Gaya Hidup Perlu Ditolak
Menahan inflasi gaya hidup bukan berarti hidup harus sama persis seperti saat gaji pertama.
Sebagian peningkatan memang membuat hidup lebih baik. Tempat tinggal yang lebih dekat ke kantor menghemat waktu dan tenaga. Makanan yang lebih bergizi berdampak pada kesehatan. Perangkat kerja yang layak bisa membantu kita menghasilkan lebih banyak.
Cara sederhana untuk menyaringnya adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:
“Kalau gaji saya tidak naik, apakah saya tetap menginginkan ini?”
Jika jawabannya iya, kemungkinan itu memang hal yang kita hargai. Jika jawabannya tidak, bisa jadi kita membelinya hanya karena sekarang mampu.
Ada satu hal lagi yang perlu diwaspadai, yaitu peningkatan yang berbentuk cicilan. Makan di luar bisa dikurangi kapan saja. Cicilan kendaraan atau perangkat mengikat kita selama bertahun-tahun, termasuk ketika kondisi penghasilan berubah.
Yang Perlu Dilihat Bukan Hanya Nominalnya
Selama ini kita mungkin menilai kebiasaan menabung dari pertanyaan “berapa yang saya sisihkan bulan ini”. Pertanyaan itu berguna, tetapi belum lengkap.
Coba tambahkan satu angka lagi, yaitu persentase penghasilan yang disimpan. Hitung setiap beberapa bulan, terutama setelah ada perubahan gaji. Jika persentasenya turun sementara penghasilan naik, itu tanda bahwa gaya hidup tumbuh lebih cepat daripada tabungan.
Angka ini juga lebih jujur dibandingkan perasaan. Kita bisa merasa hidup hemat, tetapi persentasenya akan menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.
Kenaikan Gaji Adalah Kesempatan, Bukan Jaminan
Penghasilan yang lebih besar tidak otomatis membuat keuangan lebih sehat. Ia hanya memberi ruang, dan ruang itu akan terisi oleh sesuatu, entah kita yang memilihnya atau bukan.
Kita tidak perlu merasa bersalah karena menikmati hasil kerja. Kita hanya perlu memastikan bahwa sebagian dari setiap kenaikan ikut bekerja untuk diri kita pada masa mendatang.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan berapa besar gaji kita hari ini, melainkan berapa banyak dari gaji itu yang benar-benar tinggal bersama kita.
Untuk WordPress
Kategori: Artikel, Financial Planning
Tags: Inflasi Gaya Hidup, Saving Rate, Perencanaan Keuangan, AkFina
Excerpt: Gaji sudah naik, tetapi tabungan tidak ikut bertambah. Bisa jadi penyebabnya inflasi gaya hidup, dan nominal yang sama itu sebenarnya porsi yang makin kecil.